TANYA :
Dokter, saya didiagnosis
mengidap spasmofilia (+++), karena spasmofilia saya didiagnosis
berkaitan erat dengan faktor psikis, capek dan stres. Saya diberi obat
penenang dan pengurang rasa sakit. Obat penenang yang diberikan kepada
saya adalah aprazolam. Secara tinjauan ilmu psikiatris, apa ada terapi
yang berkaitan dengan psikis untuk penderita spasmofilia? Sejak
mengidap spasmofilia, saya merasa rentan stres dan sakit. Hal-hal kecil
sudah cukup memicu sakit bagi saya. Ada yang mengatakan spamofilia
tidak bisa disembuhkan, berarti saya akan mengkonsumsi obat penenang
dalam jangka waktu lama? Amankah ? Apa efek bila dikonsumsi dalam
jangka panjang dok? Terimakasih
(Citra, 22, Semarang)
JAWAB :
Mbak Citra yang bahagia,
Sepanjang
yang saya tahu tidak ada istilah diagnosis spasmofilia. Jika kita
mencari di portal jurnal kedokteran ternama seperti PubMed maka
spasmofilia (ditulis dalam bahasa inggris "Spasmophilia") akan dirujuk
ke suatu jurnal yang membahas kondisi yang disebut Tetany, suatu
kondisi eksitasi berlebihan saraf neuron yang kebanyakan disebabkan
karena kadar kalsium dalam darah yang kurang.
Spasmofilia dalam
praktek sehari-hari sebenarnya merujuk pada kondisi hasil pemeriksaan
dengan EMG yang biasa dilakukan oleh dokter saraf untuk pasien yang
terkadang mengeluh kekakuan otot atau ketegangan otot. Memang dalam
laporannya ada istilah nilai plus (+) yang menunjukkan kekakuannya
makin tinggi maka plusnya makin banyak.
Pengalaman klinis saya
mengatakan bahwa sebenarnya kondisi spasmofilia ini banyak terjadi pada
pasien yang mengalami kecemasan panik terutama saat serangan panik
terjadi. Kalau Mbak Citra rajin mengikuti konsultasi kesehatan jiwa
atau tulisan-tulisan saya di Kompas.com, saya banyak membahas
tentang gangguan cemas panik ini yang gejala-gejalanya memang salah
satunya adalah kekakuan otot atau ketegangan otot.
Karena
merupakan keluhan, maka menurut pendapat saya yang diobati adalah
diagnosis dasarnya misalnya dalam hal ini adalah gangguan cemasnya .
Penggunaan obat anticemas atau dikenal dengan penenang seperti
Alprazolam memang bisa membantu, tetapi harus diingat bahaya
ketergantungan yang sering terjadi akibat obat ini.
Sehingga
pemakaiannya biasanya paling lama hanya 4 minggu. Bahkan dalam praktek
saya pribadi saya sangat jarang menggunakan obat ini karena mengetahui
potensi ketergantungannya yang tinggi. Untuk itu biasanya selain
melatih relaksasi maka pasien juga disarankan untuk mendapatkan terapi
obat antidepresan golongan serotonin (SSRI) yang merupakan obat pilihan
lini pertama untuk gangguan cemas.
Ada baiknya mbak Citra
berkonsultasi dengan psikiater terdekat di kota anda, apalagi di awal
surat mbak Citra mengatakan kondisi mbak berkaitan dengan psikis dan
stres.
Semoga membantu
Salam Sehat Jiwa
Sumber : http://health.kompas.com/read/2012/02/02/09430111/Pengobatan.untuk.Keluhan.Spasmofilia
Klinik Psikosomatik RS OMNI
Jl. Alam Sutera Boulevard Kav.25 Serpong, Tangerang Phone : (021) 5312 8222 / (021) 53128555 Praktek : Senin s.d Jumat : 17.00 - 20.00 Sabtu : 09.00-12.00, Selasa dan Kamis : pagi dengan perjanjian, Email : mbahndi@yahoo.com
Kamis, 02 Februari 2012
Jumat, 30 Desember 2011
Sakit Jantung ini Ternyata GANGGUAN PANIK
KOMPAS.com - Toni eksekutif muda usia 35 tahun itu tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar sangat cepat. Saat itu, ia sedang berada di jalan menuju kantornya di daerah Sudirman. Ia juga merasakan sesak napas dan perasaan seperti tercekik.
Toni menjadi sangat ketakutan akan keadaan ini, sampai ia meminggirkan mobilnya. Saat itu, ia merasa takut mati sehingga membuatnya ke unit gawat darurat (UGD) sesaat jantungnya sudah mulai terasa berkurang debarannya 10 menit kemudian.
Di UGD, Toni diperiksa jantung dan laboratorium penunjang lainnya. Hasilnya semua dalam batas normal. Toni kemudian bingung apa yang baru saja dialaminya. dokter menyarankan Toni untuk tidak khawatir karena tidak ditemukan kelainan apa-apa. “Mungkin anda sedang kecapekan saja”, kata si dokter menenangkan
Kasus di atas cukup sering ditemukan sebagai salah satu kasus gangguan kesehatan jiwa yang bermanifestasi gejala fisik. Kalangan kesehatan jiwa menyebutnya sebagai serangan panik. Orang yang mengalaminya biasanya mengira bahwa ia terkena serangan jantung karena gejalanya sangat mirip dengan gangguan tersebut. Bedanya adalah dalam durasi waktu, serangan panik biasanya hanya berlangsung paling lama 15 menit saja dan setelah itu terjadi penurunan gejala yang dialami.
Ada beberapa gejala serangan panik yang sering dialami oleh pasien. Gejalanya yang paling sering adalah sebagai berikut ; Jantung berdebar dan peningkatan denyut jantung, berkeringat, badan terasa gemetar atau berguncang, perasaan napas yang pendek, perasaan seperti tercekik, sakit dada atau perasaan tidak nyaman, mual atau merasa tidak enak di perut, merasa pusing, tidak stabil, kepala terasa ringan atau mau pingsan, takut kehilangan kontrol atau menjadi gila, perasaan takut mati, kesemutan atau seperti baal dan rasa seperti terbakar atau kepanasan.
Gangguan panik didiagnosis bila dalam waktu sebulan terakhir telah terjadi lebih dari 3 (tiga) kali serangan panik. Serangan panik ini terjadi tiba-tiba, dan di antara serangan panik tersebut pasien merasa khawatir jika dirinya mengalami keadaan itu lagi (kecemasan antisipasi). Serangan panik ini juga telah mengganggu fungsi pasien sehari-hari baik pribadi dan sosial.
Agorafobia
Jika pasien mengalami serangan panik yang berulang, maka kebanyakan pasien menjadi takut untuk keluar rumah sendirian. Hal ini disebabkan pasien takut bila tiba-tiba saat ia sendiri di luar rumah, serangan panik itu datang lagi dan tidak ada yang menolongnya. Ketakutan tersebut dinamakan agorafobia.
Agorafobia biasanya juga diikuti oleh penghindaran terhadap situasi yang dapat membuat timbulnya kecemasan pasien. Hal ini yang menyebabkan pasien dengan gangguan panik biasanya takut bila keluar rumah sendiri tanpa ditemani. Pasien juga menjadi malas keluar rumah atau bersosialisasi dengan teman serta kerabat di tempat-tempat terbuka. Apalagi bila ia harus ke tempat seperti itu sendirian. Hal ini tentunya menurunkan kualitas hidup pasien tersebut.
Apa yang dapat dilakukan?
Kualitas hidup pasien gangguan panik tentunya mengalami penurunan akibat konsekuensi dari penyakitnya. Untuk itu, tatalaksana yang tepat dan menyeluruh sangat dibutuhkan agar pasien dapat kembali hidup normal.
Jika memang dalam pemeriksaan fisik dan penunjang tidak terdapat hasil yang mendukung ke suatu diagnosis penyakit seperti jantung dan tiroid (gondok) maka diagnosis gangguan panik harus segera dipertimbangkan.
Pemeriksaan fisik dan penunjang yang lengkap penting karena gejala serangan panik seringkali mirip dengan gejala-gejala penyakit yang sering kita temukan dalam praktek seperti penyakit jantung dan gangguan tiroid (gondok). Rujukan ke seroang ahli kesehatan jiwa atau psikiater juga dapat dilakukan demi tegaknya diagnosis dan penatalaksanaan yang segera dan menyeluruh.
Seperti tatalaksana kebanyakan gangguan kesehatan jiwa, pengobatan gangguan panik juga meliputi pengobatan dengan obat dan psikoterapi. Penggunaan obat untuk gangguan panik telah mendapatkan rekomendasi dari badan obat dan makanan Amerika (FDA) dan juga dari badan pengawasan obat dan makanan (POM) Indonesia.
Pasien tidak perlu khawatir akan efek ketergantungan terhadap obat yang sering ditakutkan oleh masyarakat bila memakan obat-obat dari ahli kesehatan jiwa. Kerjasama antara dokter dan pasien serta informasi yang akurat dan lengkap akan efek obat serta hal-hal yang menyangkut penggunaannya haruslah diketahui sejak awal berobat.
Pasien tentunya mempunyai hak untuk bertanya kepada dokter tentang obat yang dimakannya serta efek samping yang mungkin timbul. Tentunya kewajiban dokter untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar obat yang digunakan. Keteraturan kontrol berobat dan kepatuhan akan dosis obat juga akan menghindarkan pasien dari hal-hal yang tidak diinginkan dari penggunaan obat yang tidak tepat.
Psikoterapi dengan menggunakan teknik terapi kognitif juga sangat diperlukan. Pasien gangguan panik biasanya mempunyai keyakinan yang salah akan penyakitnya. Pasien biasanya sering salah mengintepretasikan sensasi di tubuhnya sebagai tanda awal serangan panik. Informasi tentang serangan panik termasuk penjelasan bahwa ketika serangan panik berlangsung, serangan tersebut terbatas waktunya dan tidak mengancam jiwa.
Latihan relaksasi, pernapasan termasuk meditasi juga mempunyai peran yang sangat baik pada pasien gangguan panik. Hal ini membantu pasien untuk dapat mengontrol pernapasannya dan sedapat mungkin relaks sehingga gejala yang timbul dapat ditangani dengan baik secara mandiri oleh pasien pada saat serangan panik datang.
Semoga penjelasan di atas dapat membantu anda untuk mengenali gejala dan tanda gangguan panik serta cara mengatasinya. Jangan malu untuk berkonsultasi dengan dokter ahli kesehatan jiwa jika mengalami gangguan panik. Salam sehat jiwa!
Dr. Andri SpKj, Psikiater dengan kekhususan di bidang Psikosomatik dan Psikiatri Liaison. Penanggung Jawab Klinik Psikosomatik RS Omni, Alam Sutera, Tangerang.
Sumber : KOMPAS.com
Rabu, 28 Desember 2011
Catatan Akhir Tahun Psikosomatik
Oleh : Dr.Andri,SpKJ
Psikiater Bidang Psikosomatik Medis
Seperti yang telah dicanangkan pada akhir tahun 2010, tahun 2011 akan menjadi tahun pendidikan Psikosomatik bagi saya. Di tahun 2011 saya berencana untuk semakin mengembangkan kesadaran masyarakat dan profesi di bidang kedokteran tentang apa itu Psikosomatik dan hubungannya dengan bidang ilmu kedokteran jiwa.

Saat menjadi pembicara di FK UGM di hadapan para calon spesialis (dokpribadi)
Bermula dari proposal yang saya ajukan ke American Psychosomatic Society di Amerika Serikat, maka pada tahun 2011 akhirnya FK UKRIDA menjadi Fakultas Kedokteran pertama di Indonesia dan Asia Tenggara yang mendapatkan bantuan dana dan bimbingan untuk pelaksanaan Psychosomatic Medicine Interest group di FK UKRIDA.
Selanjutnya pada bulan Mei 2011 saya diberikan kesempatan untuk menjadi Konsultan Kesehatan Jiwa di Kompas.com. Kepercayaan ini tentunya tidak saya sia-siakan untuk terus menyebarkan kesadaran kepada masyarakat bahwa gangguan jiwa adalah sesuatu yang lumrah dan bisa mengenai siapa saja dari berbagai golongan, tua muda serta miskin maupun kaya.
Pendidikan berkelanjutan bagi dokter umum dan peserta didik spesialis kedokteran jiwa adalah salah satu hal yang sangat penting. Hal ini yang mendorong saya melakukan kunjungan kuliah tamu atas undangan atau inisiatif sendiri ke Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Tahun 2011, selain Departemen Psikiatri FK UGM, ada juga Departemen Kedokteran Keluarga yang mengundang saya untuk bicara tentang psikosomatik bagi dokter keluarga.

Menjadi pembicara di seminar Psikosomatik di Ambon, Desember 2011 (dokpribadi)

Menjadi pembicara di Pertemuan Ilmiah Dua Tahunan Psikiater Indonesia, Bandung Juli 2011 (dokpanitia)
Di tahun 2011 juga saya mendapatkan kesempatan untuk berbicara di depan kongres Pertemuan Ilmiah Dua Tahunan Psikiater se-Indonesia pada bulan Juli 2011. Pada kesempatan ini saya berbicara tentang Gangguan Psikiatrik pada Trauma Kepala. Selain kongres nasional, banyak juga kongres dan pertemuan lokal yang diikuti berkaitan dengan topik kesehatan jiwa.
Selain aktif menyebarkan ilmu kedokteran jiwa khususnya di bidang psikosomatik kepada para profesional seperti mahasiswa kedokteran dan dokter umum/spesialis, saya juga banyak diberikan kesempatan menjadi narasumber di berbagai media baik cetak maupun televisi. Hal ini tentunya membuat akses penyebaran informasi psikiatri dan kesehatan jiwa juga semakin luas.
Semoga di tahun-tahun yang akan datang, apa yang telah dilakukan di tahun 2011 dapat terus dilanjutkan ke tahun-tahun yang akan datang.
Salam Sehat Jiwa
Jumat, 23 Desember 2011
Selamat Hari Natal dan Tahun Baru
KLINIK PSIKOSOMATIK RS OMNI ALAM SUTERA
mengucapkan :
SELAMAT HARI NATAL 2011
dan
TAHUN BARU 2012
Semoga Berkah dan Kasih Tuhan Selalu Beserta Kita
Semakin Sukses di Tahun Yang Akan Datang
Salam Sehat Jiwa,
dr.Andri,SpKJ
Penanggung Jawab Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera
Senin, 05 Desember 2011
Seminar Psikosomatik di Kota Ambon Manise
![]() |
| Saat presentasi dengan topik "Gangguan Psikosomatik : Dasar dan Tatalaksana di Pelayanan Primer" (dok.pribadi) |
Seminar Psikosomatik di Kota Ambon Manise
Oleh : Dr.Andri,SpKJ
Setelah sebelumnya direncanakan tanggal 1 Oktober 2011 namun akhirnya tertunda karena terjadi konflik insiden di Ambon, maka akhirnya hari ini (3 Des 2011) bertempat di Hotel Aston Natsepa, Ambon diselenggarakan Seminar Psikosomatik dengan tema “Pengenalan dan Penatalaksanaan Gangguan Psikosomatik”. Acara ini diprakarsai oleh RSKD Ambon dibawah pimpinan Dr.David Santoso,SpKJ,MARS dan bekerja sama dengan IDI Wilayah Maluku dan PDSKJI Cab Makassar. Acara ini diketuai oleh dr.Carolus Juliana Lenora Louise.
Acara yang berlangsung dari pagi hari sampai sore ini menampilkan berbagai tema dan pembicara dari beragam latar belakang spesialisasi. Acara dibuka oleh pembacaan sambutan walikota Kotamadya Ambon Bpk. Richard Louhenapessy,SH. Setelah pembukaan acara kemudian selanjutnya acara dimulai dengan sesi pertama yang menampilkan dua pembicara. Sesi ini dimoderatori oleh Dr.David Santoso,SpKJ,MARS yang memberikan kesempatan kepada Prof.dr.Jayalangkara,PhD,SpKJ(K) yang berbicara tentang Psikosomatik ditinjau dari Psikiatri Biologi. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan pembicara kedua dr.Wempy Thiorits,SpKJ(K) yang mengungkapan pengalaman dalam penatalaksanaan pasien dengan gangguan psikosomatik.
Pembicara selanjutnya adalah tentang “Reaksi Psikologis Pada Pasien Anak” yang dibawakan oleh dr.Vivayanty H,SpA,MARS dan dilanjutkan presentasi dari dr.Adelin S,SpKJ(K) yang mengemukakan presentasi tentang Psikosomatik pada Anak dan Remaja.
Setelah makan siang acara selanjutnya dilanjutkan dengan presentasi dari dr.Maxi Mangundap,SpPD,LetKol yang berbicara tentang Reaksi Psikologis pada Gastritis. Nyeri kepala tipe tegang selanjutnya diberikan oleh dr.Samuel Wagiu,SpS dan Psikoseksual dibahas oleh dr. J.Tomarius,SpKJ. Presentasi ditutup oleh presentasi saya sendiri tentang Pengenalan dan Penatalaksanaan Psikosomatik Terkini berdasarkan Academy of Psychosomatic Medicine.
Acara ini berlangsung sukses dengan melibatkan lebih dari 200 peserta dari berbagai daerah di sekitar Ambon, Sulawesi dan Jawa. Acara ini juga mendapatkan dukungan dari Perusahaan MersiFarma yang turut membantu kelancara acara. Pada sambutannya ketua panitia dr.Carolus mengatakan bahwa acara ini adalah acara terbesar pertama yang dilakukan di Ambon dalam artian juga mengundang berbagai macam pembicara dari berbagai daerah dan latar belakang. Hal ini juga sebagai suatu cara untuk menunjukkan bahwa Ambon aman dan apa yang terjadi beberapa waktu lalu adalah letupan kecil hasil buah karya provokator bukan hasil dari konflik pada masyarakat Ambon sendiri.
Semoga seminar psikosomatik ini mampu menjadikan suatu tonggak pertama pelayanan kesehatan jiwa yang lebih menyentuh aspek biopsikosial.
Rabu, 23 November 2011
Kenapa Panik Saya Kambuh,Dok?
oleh : dr.Andri,SpKJ
Setahun berlalu, pasien saya ini kembali lagi karena keluhannya berulang. Pasien laki-laki usia 40 tahun, seorang manager menengah di sebuah perusahaan asing ternama. Usut punya usut, ternyata kekambuhan gangguan paniknya dipicu adanya suatu peristiwa menyaksikan mertuanya meninggal karena serangan jantung. Kondisi ini tentunya kembali memicu pasien mengalami serangan panik yang sekiranya dianggap oleh dirinya memang sama gejalanya dengan serangan jantung.
Kenapa Bisa Kambuh ?
Kekambuhan pada orang yang mengalami gangguan panik memang cukup besar. Layaknya gangguan depresi yang angka kekambuhannya mencapai 50%, setidaknya gangguan panik juga bisa demikian. Banyak faktor yang dihubungkan dengan kekambuhan gangguan panik ini. Beberapa sebenarnya sangat berhubungan erat faktor biopsikososial yang mendasari berbagai macam gangguan jiwa. Saya akan sedikit membahasnya dari beberapa segi tersebut.
A. Biologi
Serangan panik dihubungkan karena aktifitas sistem saraf di otak yang meningkatkan sistem saraf otonom parasimpatis dan simpatis. Sistem ini menjadi kurang stabil kerjanya dipicu oleh stres yang berkepanjangan dan seringkali tidak disadari oleh pasien. Saya selalu mengatakan kepada pasien bahwa yang terjadi adalah sistem alarm di otak yang salah, di mana ketika serangan panik terjadi biasanya terjadi tiba-tiba dan tidak dipicu oleh sesuatu. Kondisi terpicunya ini disebabkan karena fungsi saraf salah mengartikan signal alarm di otak. Pada dasarnya kita membutuhkan "kecemasan" sebagai bagian dari mekanisme pertahanan tubuh terhadap perubahan atau bahaya yang mengancam, tetapi jika berlebihan maka akan menjadi tidak proporsional dan merusak sistme lainnya.
Pada kondisi pasien yang panik, setelah diobati kondisi ini bisa kembali normal. Sayangnya sering menjadi rusak kembali ketika faktor biologis yang dibetulkan dengan obat saat pengobatan tidak dibarengi dengan upaya untuk manajemen stres. Jadi akhirnya bisa saja kondisi kesalahan sistem alarm ini berulang
B. Psikologis
Kepribadian dan latar belakang psikologis seseorang sangat berhubungan dengan mekanisme pertahanannya terhadap stres. Kepribadian tipe A yang dicirikan dengan sifat buru-buru, sulit menerima penolakan, konsisten, persisten, ingin selalu dituruti kemauannya, ingin selalu dalam kondisi yang dia harapkan adalah beberapa sifat yang erat kaitannya dengan munculnya stres dan rusaknya sistem pertahanan stres di otak. Jika perbaikan sistem di otak dengan obat tidak dibarengi dengan perbaikan daya adaptasi yang berkaitan dengan kepribadian ini, maka hasilnya gaya kepribadian seperti ini bisa memicu dan menimbulkan kerusakan sistem alarm otak kembali.
C. Sosial Lingkungan
Faktor yang berhubungan dengan sosial lingkungan tidak bisa dilepaskan dari kekambuhan pasien serangan panik. Kondisi lingkungan yang penuh stres dan menekan dapat membuat pasien terus-terusan dalam keadaan tertekan dan stres. Hal ini yang bisa memicu ketidakseimbangan sistem saraf di otak yang akhirnya bisa memicu kembali alarm yang salah yang dipersepsikan oleh pasien sebagai serangan panik.
Ketiga faktor di atas sangat penting diperhatikan ketika saya berhadapan dengan pasien gangguan panik. Bukan hanya pemberian obat tetapi juga manajemen stres dan langkah-langkah perbaikan atau modifikasi lingkungan sosial. Satu hal yang paling penting terkadang persepsi stres pasien juga sangat memegang peranan. Kondisi stres psikis lebih sering berhubungan dengan persepsi, untuk itulah melatih diri dengan berpikir lebih positif adalah cara yang sangat disarankan untuk terus dilatih.
Semoga bermanfaat.
Salam Sehat Jiwa
Jumat, 18 November 2011
Gangguan Panik Obatnya Apa ?
Pertanyaan :
Halo dr Andri, salam kenal. saya mengalami serangan panik dan gejala panik sudah 3 kali. pertama tahun 2008 april, kedua tahun 2009 oktober dan ketiga oktober 2011 . Sudah beberapa dokter sudah saya kunjungi semua mengatakan saya ansietas dan serangan panik, dan mereka selalu memberikan obat alprazolam. Pada awalnya saya tidak mengindahkan kata mereka utk minum obat karena kebiasaan saya tdk suka minum obat. tapi gejala panik ini masih terasa di saya dan sangat mengganggu saya dalam aktifitas, maka dengan ini saya membaca tulisan dokter tentang obat golongan SRRI jauh lebih aman dari golongan benzodiazepam ? ingin saya tanyakan jenis obat SRRI yang mana ? paxil atau apa yang lebih aman ? dan yang paling kecil ukurannya berapa miligram ?. karena yg saya baca juga sejak thn 2009 FDA telah melarang menggunakan aprazolam utk
pasien ansietas karena adiksi . Lalu bagaimana cara penggunaan/terapi obat golongan SRRI, minum berapa kali sehari dan kapan berhenti , supaya saya terbebas dari penyakit ansietas ini utk selamanya. saya sangat berterima kasih dokter utk jawabannya. (dari : AC)
Jawaban :
Pasien dengan gangguan panik memang seringkali pada saat datang pertama kali ke dokter umum, dokter spesialis non-jiwa ataupun dokter jiwa diberikan anticemas seperti Alprazolam. Hal ini karena Alprazolam sangat efektif dalam mengatasi kondisi serangan panik dan kecemasan ikutan yang sering dialami pasien gangguan panik. Tidak heran obat ini seperti layaknya "kacang goreng" karena indikasinya jadi sangat melebar dari awalnya ditujukan untuk gangguan panik, sekarang ini diberikan juga untuk pasien yang dispepsia, sulit tidur, sering berdebar, bahkan untuk pasien dengan kasus-kasus medis yang erat kaitannya dengan kecemasan seperti sakit jantung koroner. Obat ini memang ampuh mengatasi cemas dan bekerja cepat.
Sayangnya obat ini memiliki waktu paruh obat yang pendek, membuatnya hanya efektif dalam waktu 4-6 jam saja sehingga akan ada kecenderungan untuk memakai lagi terutama jika pada pasien gangguan panik. Selain itu kondisi pasien dengan menggunakan anticemas alprazolam juga sering kali menjadi sulit lepas dari obat ini karena memang memiliki potensi ketergantungan yang besar jika dipakai lebih dari dua minggu saja. Sulit lepas ini juga disebabkan karena efek putus zat obat ini sangat tidak nyaman, ada yang langsung tiba-tiba stop dan merasakan kecemasan yang lebih parah daripada sebelumnya.
Maka dari itu penggunaan obat ini harus hati-hati dan kalau bisa sesuai dengan indikasi saja. Belakangan karena potensi ketergantungan, toleransi (makin besar pake makin lama) dan reaksi putus zat, obat ini sudah tidak menjadi pilihan pertama lagi sebagai obat anticemas di Amerika Serikat, di sana lebih cenderung menggunakan Antidepresan gol SSRI seperti Sertraline, Fluoxetine, Paroxetine (Paxil). Penggunaan antidepresan untuk pasien gangguan panik juga biasanya dimulai dengan dosis kecil karena pasien gangguan panik sering lebih sensitif terhadap efek samping obat antidepresan yang biasanya berlangsung pada minggu pertama pemakaian. Obat biasanya digunakan selama 4-6 bulan untuk mencegah kekambuhan. Selain obat perlu ada terapi lain termasuk edukasi tentang kondisi kecemasan panik dan manajemen stres.
Semoga berguna jawaban ini
Salam Sehat Jiwa
Dr.Andri,SpKJ
Psikiater Bidang Psikosomatik Medis
Klinik Psikosomatik RS OMNI ALAM SUTERA
Halo dr Andri, salam kenal. saya mengalami serangan panik dan gejala panik sudah 3 kali. pertama tahun 2008 april, kedua tahun 2009 oktober dan ketiga oktober 2011 . Sudah beberapa dokter sudah saya kunjungi semua mengatakan saya ansietas dan serangan panik, dan mereka selalu memberikan obat alprazolam. Pada awalnya saya tidak mengindahkan kata mereka utk minum obat karena kebiasaan saya tdk suka minum obat. tapi gejala panik ini masih terasa di saya dan sangat mengganggu saya dalam aktifitas, maka dengan ini saya membaca tulisan dokter tentang obat golongan SRRI jauh lebih aman dari golongan benzodiazepam ? ingin saya tanyakan jenis obat SRRI yang mana ? paxil atau apa yang lebih aman ? dan yang paling kecil ukurannya berapa miligram ?. karena yg saya baca juga sejak thn 2009 FDA telah melarang menggunakan aprazolam utk
pasien ansietas karena adiksi . Lalu bagaimana cara penggunaan/terapi obat golongan SRRI, minum berapa kali sehari dan kapan berhenti , supaya saya terbebas dari penyakit ansietas ini utk selamanya. saya sangat berterima kasih dokter utk jawabannya. (dari : AC)
Jawaban :
Pasien dengan gangguan panik memang seringkali pada saat datang pertama kali ke dokter umum, dokter spesialis non-jiwa ataupun dokter jiwa diberikan anticemas seperti Alprazolam. Hal ini karena Alprazolam sangat efektif dalam mengatasi kondisi serangan panik dan kecemasan ikutan yang sering dialami pasien gangguan panik. Tidak heran obat ini seperti layaknya "kacang goreng" karena indikasinya jadi sangat melebar dari awalnya ditujukan untuk gangguan panik, sekarang ini diberikan juga untuk pasien yang dispepsia, sulit tidur, sering berdebar, bahkan untuk pasien dengan kasus-kasus medis yang erat kaitannya dengan kecemasan seperti sakit jantung koroner. Obat ini memang ampuh mengatasi cemas dan bekerja cepat.
Sayangnya obat ini memiliki waktu paruh obat yang pendek, membuatnya hanya efektif dalam waktu 4-6 jam saja sehingga akan ada kecenderungan untuk memakai lagi terutama jika pada pasien gangguan panik. Selain itu kondisi pasien dengan menggunakan anticemas alprazolam juga sering kali menjadi sulit lepas dari obat ini karena memang memiliki potensi ketergantungan yang besar jika dipakai lebih dari dua minggu saja. Sulit lepas ini juga disebabkan karena efek putus zat obat ini sangat tidak nyaman, ada yang langsung tiba-tiba stop dan merasakan kecemasan yang lebih parah daripada sebelumnya.
Maka dari itu penggunaan obat ini harus hati-hati dan kalau bisa sesuai dengan indikasi saja. Belakangan karena potensi ketergantungan, toleransi (makin besar pake makin lama) dan reaksi putus zat, obat ini sudah tidak menjadi pilihan pertama lagi sebagai obat anticemas di Amerika Serikat, di sana lebih cenderung menggunakan Antidepresan gol SSRI seperti Sertraline, Fluoxetine, Paroxetine (Paxil). Penggunaan antidepresan untuk pasien gangguan panik juga biasanya dimulai dengan dosis kecil karena pasien gangguan panik sering lebih sensitif terhadap efek samping obat antidepresan yang biasanya berlangsung pada minggu pertama pemakaian. Obat biasanya digunakan selama 4-6 bulan untuk mencegah kekambuhan. Selain obat perlu ada terapi lain termasuk edukasi tentang kondisi kecemasan panik dan manajemen stres.
Semoga berguna jawaban ini
Salam Sehat Jiwa
Dr.Andri,SpKJ
Psikiater Bidang Psikosomatik Medis
Klinik Psikosomatik RS OMNI ALAM SUTERA
Langgan:
Entri (Atom)
