Cuti Praktek

Cuti Praktek

Sabtu, 28 Mei 2011

Serangan Panik dan Gangguan Panik

Gangguan Panik merupakan salah satu gangguan jiwa yang sering terdapat pada pasien-pasien yang berkunjung ke bagian kesehatan jiwa. Gejalanya yang juga sangat mirip dengan serangan jantung membuat pada awalnya pasien biasa datang ke Gawat Darurat atau ke dokter spesialis jantung/penyakit dalam.
Gangguan panik didiagnosis bila dalam waktu sebulan terakhir telah terjadi lebih dari 3 (tiga) kali serangan panik. Serangan panik ini terjadi tiba-tiba, dan di antara serangan panic tersebut pasien merasa khawatir jika dirinya mengalami keadaan itu lagi (kecemasan antisipasi). Serangan panic ini juga telah mengganggu fungsi pasien baik pribadi dan sosial.
Di bawah ini dituliskan gejala-gejala serangan panik yang biasa terdapat pada pasien. Bila pasien mengalami 5 dari gejala ini yang berlangsung tiba-tiba dan berlangsung lebih kurang 10 menit, maka dia dapat dikatakan mengalami serangan panik.
1. Jantung berdebar dan peningkatan denyut jantung
2. Berkeringat
3. Badan terasa gemetar atau berguncang
4. Perasaan napas yang pendek
5. Perasaan seperti tercekik
6. Sakit dada atau perasaan tidak nyaman
7. Mual atau merasa tidak enak di perut
8. Merasa pusing, tidak stabil, kepala terasa ringan atau pingsan
9. Perasaan tidak nyata, merasa diri dan lingkungan seperti asing
10. Takut kehilangan kontrol atau menjadi gila
11. Takut mati
12. Kesemutan atau seperti baal
13. Rasa seperti terbakar atau kepanasan

Jika anda mengalami gejala tersebut sering dan disertai gangguan fungsi pribadi dan sosial, anda seharusnya segera berobat ke dokter kesehatan jiwa. Dokter kesehatan jiwa pertama kali akan menyingkirkan terlebih dahulu adanya kemungkinan diagnosis penyakit jantung atau penyakit yang dapat memberikan gejala-gejala mirip seperti serangan panik seperti gangguan tiroid (gondok). Bila semua sudah disingkirkan maka diagnosis gangguan panik dapat ditegakkan.
Pengobatan gangguan panik meliputi pengobatan dengan obat dan psikoterapi. Biasanya pasien akan mendapatkan obat dalam jangka waktu tertentu (minimal 3 bulan) sambil terus dilatih agar bila serangan paniknya datang, pasien dapat mengatasinya. Pasien gangguan panik biasanya juga mempunyai latar belakang masalah psikologis yang nyata sehingga dokter kesehatan jiwa akan berusaha membantu pasine mengatasi hal tersebut.
Jangan malu untuk berkonsultasi dengan dokter kesehatan jiwa bila mengalami gangguan panik.

Jumat, 27 Mei 2011

Alprazolam Yang Mengubah Hidup (Cerita Tentang Ketergantungan Obat)

Semalam saat saya praktek, saya kembali bertemu dengan pasien saya yang sedang berusaha menghentikan pemakaian Alprazolamnya (dikenal dengan merk dagang Xanax, Alganax, Zypraz, Alviz, Alprazolam generik). Bapak usia 70 tahun ini sudah mulai berhasil menurunkan Alprazolam yang dia konsumsi. Saat bertemu saya 2 bulan yang lalu, pasien sedang dalam kondisi “ketergantungan” Alprazolam dengan dosis 3×0,5 mg selama setahun. Obat ini diberikan oleh seorang dokter umum kepadanya karena kecemasan yang dia derita. Sayangnya pada kelanjutannya pasien seperti sulit lepas dari Alprazolam ini dan akhirnya memutuskan untuk terus pakai sampai akhirnya sadar dia sudah mulai ketergantungan. Kemarin saat bertemu saya, program yang kami buat bersama sudah mulai berhasil. Saat ini beliau sudah hanya makan Alprazolam 2 kali dengan dosis 0,125mg dan direncanakan akan terus turun sampai dosis nol.

Di lain kesempatan saya bertemu pasien lain yang mengalami ketergantungan terhadap Alprazolam (Xanax) dengan dosis 3 kali 2 miligram. Bayangkan beliau ini memakan obat Alprazolam dengan dosis 6 miligram perhari. Padahal dosis pengobatan paling tinggi rata-rata yang dipakai oleh pasien gangguan panik berat pun adalah 3×0,5 miligram. Obat ini pertama kali diberikan oleh dokter neurologi sekitar 10 tahun yang lalu dengan dosis 2×0,5 miligram namun terus naik sampai akhirnya mencapai dosis saat ini. Ketergantungan ini juga dibantu oleh bebasnya membeli alprazolam di apotek sebelum tahun 2009. Sejak tahun 2009 memang ada kebijakan bahwa obat golongan Benzodiazepin hanya boleh dibeli dengan resep dokter.

Saya juga punya seorang pasien dengan ketergantungan Alprazolam sampai dosis 3×1 miligram perhari. Pengobatannya pertama kali diberikan oleh psikiater di Jepang bahkan dengan campuran obat anticemas golongan lain yang di Indonesia tidak tersedia. Saat ini jika tidak makan Alprazolam, pasien merasa tidak bisa bekerja, merasa seperti Zombie dan sulit konsentrasi. Dalam forum yang beliau ikuti, beberapa kali beliau mengatakan bahwa pemakaian dan ketergantungan Alprazolamnya disebabkan karena “MUSIBAH by Procedure”. Artinya pengobatan dengan obat ini malah yang membuatnya sakit.

Lihatlah salah satu tulisan di forum yang ditulis tentang obat Alprazolam (kebetulan si bapak memakai merk Xanax) tentang pro dan contra penggunaannya :

setelah beberapa tahun ini saya baca2 soal xanax di beberapa situs dan forum2 soal xanax, ternyata masih timbul pros & cons

-di youtube dalam video siaran ABC Report about “XANAX HABBIT”, rupanya pihak FDA masih membela diri bahwa xanax masih dinyatakan aman, dalam siaran itu rupanya FDA nyewa actress yg beracting sebagai seorang “xanax addict”, tapi para penderita xanax addict beneran yg nimbrung disitu pada berkomentar “she’s a liar, she’s just an actress hired by FDA, she’s not a real xanax addict person”

-di video lainnya siaran CNN about “Hooked On Xanax part.1 & 2″ barulah banyak komen2 yg mengutuk XANAX, bahkan banyak yg menuntut agar status XANAX dirubah jadi ILEGAL.

-seorang konselor panti rehab bicara, bahwa penderita XANAX ADDICT bisa lepas total dari xanax dalam waktu 18 bulan - 2 tahun, itupun dengan taruhan kematian, sedangkan pecandu heroin bisa sembuh dalam waktu paling lama 3 bulan. withdrawal xanax 30x lebih buruk daripada withdrawal HEROIN.

-seorang pecandu Heroin selama 10 tahun bisa berhenti dengan pindah ke xanax yg tadinya dianggap aman, tapi setelah 4 tahun mengkonsumsi xanax, dia merasa susah untuk melepaskannya. dia bilang, withdrawal HEROIN: Very Painfull, sedangkan withdrawal XANAX: Very Horrible.

ALPRAZOLAM memang salah satu obat anticemas yang sering disalahgunakan dan palling banyak menimbulkan ketergantungan serta toleransi. Di buku teks Substance Abuse obat alprazolam dikatakan mempunyai potensi tinggi untuk membuat ketergantungan dan tolrensi bahkan pada dosis pengobatan. Bagi para dokter ini adalah obat yang sangat mujarab untuk menetralisir kecemasan. Indikasinya yang disahkan oleh Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat sebenarnya untuk Gangguan Panik dengan gejala panik yang berat. Artinya indikasinya memang sangat jelas namun seringkali disalahgunakan bahkan dipakai untuk obat tidur.

Saya sudah seringkali menulis tentang obat ini. Salah satu tulisan saya di Kompasiana tentang Bijak Menggunakan Obat Penenang juga berbicara tentang Alprazolam sebagai salah satu obat yang sering disalahgunakan. Penelitian beberapa peneliti dan WHO bahkan mengatakan peresepan Alprazolam paling banyak dilakukan oleh dokter umum dibandingkan dokter spesialis Psikiatri (80% dokter umum menggunakan obat ini). Pengetahuan tentang obat penenang yang terbatas tidak menyurutkan banyak dokter untuk terus meresepkan obat ini. Sehingga tidak heran terkadang kita menemukan beberapa resep obat racikan (terutam untuk gangguan lambung) yang terdapat campuran dengan Alprazolam.

Saya pribadi dalam praktek sangat jarang menggunakan obat ini. Bagi pasien gangguan panik yang dalam buku teks dibolehkan memakai obat ini pun saya hampir tidak pernah memberikan. Apalagi penelitian-penelitian terakhir mengatakan bahwa penggunaan antidepresan golongan Serotonin dinyatakan berguna dan efektif mengatasi gangguan panik. Sehingga hal ini membuat penggunaan alprazolam bisa lebih dikurangi penggunaannya.

Sekali lagi pesan saya, berhati-hatilah memakai Alaprazolam ini. Jika memang tidak perlu janganlah menggunakan. Jika perlu sekali maka gunakan sesuai indikasinya untuk gangguan panik yang berat dan tidak lebih dari 4 minggu. Jangan gunakan untuk membantu tidur atau hal-hal di luar indikasi. Jangan sampai menyesal di kemudian hari.

Salam Sehat Jiwa

Selasa, 17 Mei 2011

Apakah Antidepresan itu obat Keras ?

Pertanyaan :
Kamaren aku sakit mual + pusing beberapa hari,, terus ke dokter pas dokternya tau aku under Cipralex (obat antidepresan), kenapa kok bilangnya Cipralex itu obat keras ya? Emang Cipralex itu obat keras dan bisa merusak ginjal apa? Kok setau ku enggak?

Jawaban :
Mual2nya ke dokter apa ? Kalau bukan dokter psikiater, sangat dimaklumi mereka mengatakan kalau semua obat antidepresan, antipsikotik dan anticemas adalah obat keras, artinya karena mereka tidak mengetahui secara langsung cara penggunaannya dan kalau dokter yang memang mengetahui kompetensi dirinya tidak akan berani meresepkan.
Dexamethason yang biasa diresepkan untuk pasien2 dokter umum juga merupakan obat keras buat ibu hamil dan beberapa pasien tertentu. Obat antidiabetes, kalau diberikan secara salah dan membuat koma hipoglikemia juga bisa menjadi obat keras. Mungkin yang dimaksud si dokter adalah bahwa obat2 psikiatri kebanyakan memang masuk golongan G, maka dari itu tidak boleh sembarangan dipakai. Ini anehnya obat penenang seperti XANAX (Alprazolam) aja lebih banyak digunakan oleh dokter umum dan spesialis lain dalam bentuk racikan, bahkan data penelitian mengatakan bahwa 80% peresep Alprazolam dan golongan benzodiazepin lain adalah dokter umum/spesialis non psikiatri padahal jelas2 obat ini masuk dalam daftar G dan dikenal sebagai obat golongan Psikotropika yang perlu pengawasan ahli dalam pengobatannya.
Tidak heran dalam praktek saya sering menemukan pasien2 yang ketergantungan Xanax, Alfanax, Zypraz, Alviz adalah pasien2 yang pertama kali mendapatkan resep ini dari dokter2 umum atau dokter spesialis non-psikiatri sampai bertahun2.
JAdi seharusnya memang seorang dokter harus bener2 mengetahui apa yang dia bicarakan, jangan sembarangan bilang obat keras kalau tidak mengerti.
Saat ini pasien sudah sangat pintar, banyak informasi yang bisa didapatkan dari media internet tentang informasi obat, kalau pengen yang terpercaya silahkan buka website resmi FDA.
Semoga bermanfaat informasi ini

Andri,dr,SpKJ
Psychosomatic Medicine Specialist
mbahndi@yahoo.com

Minggu, 15 Mei 2011

Keluhan Takut Mati Salah Satu Keluhan Serangan Panik

Dalam praktek sehari-hari saya memang lebih banyak bertemu dengan pasien gangguan cemas terutama pasien gangguan cemas panik. Keluhan cemas panik sering dikeluhkan oleh pasien-pasien saya sebagai keluhan yang tidak nyaman dan membuat mereka kehilangan percaya diri.

Keluhan panik yang dikenal dalam praktek sehari-hari dan sesuai dengan definisi keluhan serangan panik berdasarkan Textbook of Psychiatry, Kaplan and Saddock terdiri dari 13 keluhan yaitu :

  1. jantung berdebar, peningkatan denyut jantung
  2. keluar keringat
  3. gemetaran
  4. nafas pendek atau perasaan tercekik
  5. perasaan tersedak
  6. nyeri dada, atau perasaan tidak nyaman di dada
  7. mual atau perasaan tidak nyaman di perut
  8. merasa bingung, tidak stabil, kepala ringan, mau pingsan
  9. derealisasi (perasaan tidak nyata) atau depresonalisasi (merasa seperti bukan dirinya)
  10. takut kehilangan kontrol atau takut menjadi gila
  11. takut mati
  12. kesemutan atau perasaan baal
  13. merinding atau perasaan panas

Saya melakukan survey kecil-kecilan kepada para orang yang pernah atau mengalami gangguan panik dan serangan panik baik yang sudah berobat maupun tidak. Responden bisa memilih dari ke 13 keluhan tersebut mana yang paling sering dikeluhkan dan pilihannya bisa lebih dari satu karena memang kebanyakan keluhan yang dialami tidak pernah satu saja. Hasilnya dari 31 responden sampai saat ini, 67,7% dari responden mengeluh Jantung Berdebar-debar dan 64,5% dari responden mengeluh Perasaan Takut Mati.

Perasaan takut mati pada serangan panik adalah sesuatu yang sangat khas. Bagi orang yang tidak pernah mengalammi serangan panik, maka keluhan takut mati ini mungkin bisa dianggap mengada-ada. Ada seorang pasien yang bahkan merasa malu datang ke saya karena banyak orang di sekitarnya mengatakan bahwa perasaan takut mati yang dialami itu seperti orang yang kurang iman. Padahal tidak ada hubungan antara kurang iman dan perasaan takut mati, hal ini berdasarkan penelitian-penelitian tentang gangguan panik dan serangan panik yang telah diteliti sejak lama.

Apa Di Balik Keluhan ini ?

Keluhan takut mati biasanya dialami oleh orang-orang yang mengalami kecemasan. Berbeda dengan keluhan ingin mati yang dialami oleh pasien yang mengalami depresi. Keluhan cemas bisa timbul karena ada faktor stres yang akut atau stres yang bersifat kronis (berkepanjangan). Sebenarnya orang menjadi cemas jika ada sesuatu yang “mengancam” keseimbangan tubuh dan otaknya, dan mekanisme timbulnya cemas itu adalah sebagai respon adaptasi tubuh untuk menyiapkan diri melawan ancaman itu. Namun pada beberapa orang, respon ini menjadi berlebihan bahkan ketika tidak ada ancaman.

Hal ini terjadi karena stres yang lama bisa mengakibatkan perubahan struktur sistem saraf di otak yang melibatkan sistem neuroendokrin (hubungannya dengan hormon adrenalin dan hormon stres kortisol) dan sistem saraf otonom (sistem saraf simpatis dan parasimpatis). Perubahan pada sistem otak inilah yang mengakibatkan walaupun tidak ada hal yang mengancam tetapi otak mempersepsikan sebagai suatu kecemasan. Intinya ada sistem alarm yang salah terhadap kondisi lingkungan. (diambil dari http://health.kompas.com/read/2011/05/13/17154826/Keluhan.Takut.Mati)

Apa Yang Bisa Dilakukan ?

Gangguan panik adalah gangguan jiwa yang paling sering terjadi. Survey yang saya lakukan mengatakan keluhan ini di Indonesia terjadi paling banyak pada usia 30-35 tahun, suatu usia yang secara kepribadian sudah lebih matang. Berbeda dengan keluhan panik yang terjadi pada orang Amerika yang biasanya terjadi pada usia yang lebih muda.

Individu yang mengalami keluhan ini bisa segera berobat ke psikiater agar mendapatkan pengobatan yang lebih baik. Penggunaan anticemas seperti Alprazolam sebaiknya jika memang diperlukan tidak boleh terlalu lama dipakai karena sebenarnya gangguan cemas saat ini terapi utamanya adalah dengan antidepresan golongan SSRI (serotonin selective reuptake inhibitor) seperti : Sertraline dan Escitalopram. Sebaiknya alprazolam sebisa mungkin dihindari jika memang tidak perlu karena potensinya untuk membuat pasien tergantung atau kondisi putus obat yang seringkali tidak nyaman sehingga membuat pasien sulit lepas. Jika dipakai haruslah dengan pengawasan dokter yang mengerti efek obat ini yaitu psikiater.

Semoga tulisan ini berguna.

Salam Sehat Jiwa !

Rabu, 11 Mei 2011

Agorafobia ? Apakah Gangguan Panik ?

Salam Kenal Pak Dokter…

Dengan menemukan artikel Bpk dibeberapa situs yang telah saya baca, akhirnya saya mengetahui bahwa saya ini mengalami “Agorafobia”, sebelumnya saya pernah ikut Hipnosis tapi tidak maksimal utk membantu proses penyembuhan saya.
Dalam kesempatan ini saya ingin menanyakan kepada Pak Dokter, apakah Agorafobia yg saya alami bisa disembuhkan. Karena saya merasa sangat dirugikan sejak mengalami penyakit tersebut. Saya tidak bisa beraktifitas secara maksimal karena selalu merasa cemas untuk melakukan kegiatan. Apalagi merasa takut menghadapi kemacetan dan tidak bisa berjalan sendirian.
Mohon infonya Pak…
Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih…

Jawaban :
Agorafobia biasanya tidak berdiri sendiri pak, dia biasanya “nempel” dengan gangguan cemas panik. Artinya ketika bapak mengalami gangguan cemas panik, bapak merasa takut untuk keluar rumah dan berada di tempat ramai sendirian kalau gak ada yang nemenin. Hal ini disebabkan karena bapak taku kalau-kalau serangan panik datang tidak ada orang yang kenal dan bisa membantu. Tidak heran orang yang mengalami gangguan panik sering tidak mau pergi ke luar rumah sendirian.
Jadi saran saya obatin dulu ganguan cemas paniknya pak, biasanya waktu yang dibutuhkan sekitar 3 bulan dengan obat dan psikoterapi terutam,a psikoedukasi, bapak akan bisa merasakan kebaikan. Sukes terapinya ya

Salam Sehat Jiwa,

dr. Andri,SpKJ

Psychosomatic Medicine Specialist
mbahndi@yahoo.com

Sabtu, 07 Mei 2011

Ganja Yang Saya Tahu

Ribut-ribut masalah legalisasi Ganja memang menarik dicermati. Setelah tahun lalu kita disibukkan dengan rokok dan undang-undang sehubungan dengan itu, kini ada sebagian kelompok mengatakan perlunya legalisasi Ganja. Rokok dan Ganja secara pribadi saya kenal dalam buku-buku psikiatri umum dan buku psikiatri yang membahas khusus masalah penyalahgunaan zat adiktif. Keduanya sama-sama masuk golongan zat adiktif yang menimbulkan ketergantungan. Secara diagnostik, pemakaian kedua zat tersebut termasuk dalam diagnostik gangguan jiwa menurut DSM IV-TR (USA), ICD 10 (WHO) dan PPDGJ III (INDONESIA) yang bisa menimbulkan intoksikasi, reaksi putus zat dan ketergantungan.

Ganja sebenarnya merupakan sebutan Canabis (yang mengandung tetrahidrocabinol) dengan kekuatan menengah. Canabis/Marijuana yang paling murah dan potensinya lemah banyak digunakan di Amerika Serikat dengan nama Bhang. Kekuatan marijuana/canabis yang paling kuat adalah Chara yang banyak ditemukan di India. Marijuana sendiri sudah dikenal sejak lama bahkan sejak sebelum masehi dan terdapat dalam konpedium obat herbal cina yaitu the Herbal of Emperor Shen Nung tahun 2737 SM.

Efek Ganja

Efek yang ingin didapatkan dari pemakaian ganja adalah rasa senang yang berkelebihan (euforia). Selain euforia sebenarnya juga pengguna ganja merasa waktu berjalan lambat sehingga terkadang menimbulkan efek ketenangan bagi mereka yang menggunakannya untuk relaks.

Pada pemakaian yang berkelebihan, Ganja bisa menyebabkan intoksikasi dengan gejala mata merah, jantung berdebar, mulut kering dan nafsu makan yang bertambah. Orang yang mengalami intoksikasi ganja juga menjadi rentan terhadap stimulus luar, dia menjadi merasa melihat cahaya lebih terang dan lebih kaya warna. Tidak heran ada beberapa pelukis yang menggunakan ganja sebagai "media" untuk mendapatkan gambaran warna yang jelas. Selain itu juga ganja bisa menimbulkan ide-ide paranoid.

Sangat tidak disarankan bagi pengguna ganja ketika sedang mengalami efek ganjanya mengendarai kendaraan bermotor karena sangat berbahaya akibat menurunnya daya psikomotor pengguna ganja. Penggunaan yang lama dari marijuana juga menimbulkan penurunan daya pikir yang jelas.

Walaupun efek yang diharapkan sebenarnya adalah mencapai keadaan euforia, salah satu keadaan yang mungkin terjadi adalah kebalikannya yaitu Amotivational Syndrome alias sindrom tidak ada motivasi. Pemakai ganja bisa tidak ada keinginan untuk bekerja, sekolah dan beraktifitas. Orang yang memakai ganja ini bisa tampak lemah, letih dan lesu.

Kebaikan Ganja

Salah satu kebaikan ganja adalah serat tanaman ganja yang kuat yang dapat dibuat sebagai kantong yang kuat. Kontroversi penggunaan zat yang terkandung dalam tanaman ganja untuk kepentingan medis masih menjadi bahan perdebatan. Walaupun terdapat kegunaannya seperti untuk pasien kemoterapi yang mengalami mual luar biasa, nyeri yang kronis yang tidak bisa sembuh dengan obat-obat konvensional, penggunaan bahan aktif yang terkandung dalam ganja untuk pengobatan masih illegal di Amerika Serikat.

Jadi silahkan anda pilih sendiri mana yang anda anggap paling baik. Bagi saya dengan melihat karakteristik masyarakat dan ketidaksiapan perangkat hukum, melegalkan ganja hanya akan menjadikan masalah baru dalam bidang kesehatan dan juga sosial ekonomi termasuk politik. Bagaimana dengan anda ?

Senin, 02 Mei 2011

Respon Stres Yang Membunuh Kita

“It’s not stress that kills us, it’s our Reaction to it” (Hans Seyle)


Jika anda mengatakan tidak pernah mengalami stres dalam kehidupan anda, saya rasa anda adalah pembohong paling besar yang pernah hidup di dunia ini. Mengapa saya berani mengatakan demikian ? Hal ini karena stres sebenarnya adalah sesuatu yang normal terjadi dalam kehidupan manusia. Apa yang membuat orang stres adalah karena keseimbangan (homeostasis) yang terganggu dalam tubuhnya. Respon yang terjadi bisa respon fisiologis (fisik) dan respon psikologis (kejiwaan).

Sebelum ke pembahasan lebih lanjut, saya hanya ingin menekankan bahwa stres yang dimaksud ini adalah kumpulan respon fisiologis maupun emosional terhadap stimulus apapun yang mengganggu keseimbangan seseorang. Stres di sini bukan yang dimaksud sebagai gangguan kejiwaan seperti depresi maupun skizofrenia, yang sering disalahartikan oleh masyarakat.

Stres Baik dan Stres Jahat

Stres tidak selalu buruk. Hans Seyle mengatakan ada dua kategori stres yaitu Eustress dan Distress. Eustress adalah stres yang baik yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu lebih baik lagi. Stres ini diadaptasi dengan baik oleh tubuh sebagai suatu respon yang normal dan memberikan rasa nyaman dalam melakukannya. Sebaliknya Distress adalah stres yang buruk, yang membuat orang menjadi tidak nyaman baik secara fisik maupun psikis.Stres ini diakibatkan respon adaptasi yang kurang baik yang dilakukan oleh individu tersebut.

Contoh yang mudah adalah ketika kita sedang macet di jalan. Faktor yang bisa disebut sebagai stresor (hal yang membuat stres) ini bisa diartikan berbeda untuk tiap orang. Bagi yang sedang macet bersama orang yang sedang ditaksirnya (alias gebetan) mungkin macet yang lama makin menyenangkan karena waktu bersama akan semakin banyak. Sedangkan jika ada kondisi yang sama buat pasangan yang sedang berkelahi atau sedang ribut, maka respon yang didapatkan akan sangat tidak nyaman.

Jangan dipegang lama-lama

Bila mengikuti hukum fisika, bahwa energi itu akan berpindah dari satu bentuk ke bentuk lain, maka demikian juga stres. Kita sering menjadi tidak nyaman dengan stres karena selain persepsi kita terhadap stres yang negatif, stres ini juga kita pegang terlalu lama.

Perumpamaan yang baik adalah ketika kita memegang sebuah gelas berisi air. Jika kita memegang gelas tersebut hanya dalam waktu 1 menit mungkin tidak akan terasa, tapi coba jika kita pegang dalam posisi yang sama selama 1 jam. Pasti kita akan merasakan yang tidak nyaman. Begitupun juga stresor, hal yang membuat kita tidak nyaman jika kita pegang lama-lama juga akan menimbulkan efek yang tidak nyaman buat tubuh kita.

Respon Yang Dilatih

Merespon stres secara positif memang bukan pekerjaan mudah, ini perlu latihan seumur hidup. Secara otomatis respon kita terhadap stres yang datang adalah negatif, bagaimana kita berpikir sebaliknya adalah respon yang didapatkan secara latihan yang lama. Kita perlu menyadari kalau hal-hal ini bisa dipelajari dan dilatih dalam setiap kesempatan.

Selama orang itu masih bisa berpikir dengan baik maka respon kita terhadap stres bisa berubah. Tergantung kita mau ke arah yang baik dan yang buruk, respon kita terhadap stres ini yang bisa menyelamatkan atau membunuh kita.

Salam Sehat Jiwa